Suasana Akrab dan Cair, Ustadz Rahmat Baequni Bertemu Ridwan Kamil Diskusi Masjid As Safar


Islamedia - Suasana Majid Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Bandung Senin(10/6/2019) penuh sesak dengan jamaah hingga ke luar. Para jamaah hadir ingin menyaksikan diskusi antara Ustadz Rahmat Baequni dan Ridwan Kamil dengan moderator Ketua MUI Jabar Rahmat Syafei untuk membahas design arsitektue masjid As Safar di KM 88 Tol Cipularang yang mirip symbol Iluminati Dajjal .

Diskusi ini berawal dari ceramah Ustadz Rahmat Baequni yang divideokan dan diunggah ke youtube. Dalam ceramahnya Ustadz Baequni memperlihatkan adanya bentuk segitiga dan lingkaran (mata satu) yang merupakan simbol iluminati Dajjal. 

Suasana diskusi nampak sangat cair antara Ustadz Baequni dan Ridwan Kamil, kedua belah pihak Nampak akrab dan berdiskusi dengan santun. 

Ustadz Baequni mengungkapkan bahwa tidak ada fitnah terbesar selain fitnah Dajjal. Adapun fitnah Dajjal, kata dia, terdiri dari sistem kehidupan sehingga tiada satu pun sistem dalam kehidupan yang tidak tersentuh oleh fitnah Dajjal. 

Oleh sebab itu, berdasarkan keterangan Nabi Muhammad, Ustadz Baequni menyatakan, siapa pun yang mengetahui fitnah Dajjal maka diwajibkan untuk menghindarinya. 

"Fitnah Dajjal adalah sistem kehidupan. Demi Allah, tidak ada satu pun sistem kehidupan yang tidak tersentuh oleh fitnah Dajjal," Ujar Ustadz Baequni yang sering memberikan ceramah bertema Dajjal ini. 

Ustadz Baequni memaparkan bahwa Dajjal mewujudkan keinginannya dengan memasuki berbagai ranah termasuk pula simbol, ritual, bahkan desain arsitektur. Menurut dia, simbol-simbol tersebut bila digunakan di tempat ibadah khususnya masjid maka hukumnya haram karena bisa membatalkan salat. 

"Dan Dajjal mewujudkan ambisinya lewat kerja zionisme internasional dan mereka menyatu dalam tiga ranah yaitu simbol, ritual, arsitektur," jelas Ustadz Baequni. 

"Silakan, simbol-simbol itu dibangun di selain tempat ibadah. Namun, haram hukumnya simbol itu ada di dalam masjid karena simbol itu akan membatalkan salat kita dan akan menggugurkan tauhid kita. Betul?" kata Ustadz Baequni dijawab "betul" oleh ribuan jamaah yang hadir di Pusdai. 

Dalam diskusi hangat tersebut, Ridwan Kamil berargumen bahwa selain masjid As Safar, banyak masjid-masjid terdekat yang mengandung bentuk segitiga dan lingkaran. Misalnya masjid besar di Kota Bandung yang kerap digunakan untuk kajian seperti Masjid Trans Studio terdapat bentuk segitiga dengan lingkaran di tengah atau disebut mata satu. 

Bila simbol segitiga dan lingkaran dilarang, Ridwan menyebut, maka simbol berupa bulan sabit yang digunakan sebagai lambang Pancasila dan logo organisasi FPI pun mesti dilarang. Intinya, dia meminta sikap konsisten. 

"Kalau lingkaran segitiga enggak boleh maka kita harus konsisten bintang lima juga dilarang, apa yang terjadi? Maka semua lambang yang ada masjid dan bulan sabit maka harus dilarang. Berarti lambang Pancasila dilarang, lambang FPI dilarang itu kalau konsisten bentuk itu dilarang," kata Ridwan Kamil yang disambut riuh hadirin. 

Ridwan Kamil juga memperlihatkan contoh masjid yang berada di Turki bahkan Masjid Nabawi yang mengandung bentuk segitiga dan lingkaran. Dia meminta keadilan agar disamaratakan penilai terhadap masjid karyanya dengan masjid-masjid lainnya. 

Jangan sampai, sambung Ridwan Kamil, yang hadir bersama ibundanya, Masjid Al-Safar menjadi bahan perbincangan yang dibahas berulang-ulang. Bahkan, hingga menimbulkan beragam hujatan yang tertuju kepada dirinya. 

"Saya minta keadilan saja kalau Al-Safar difatwakan seperti itu saya minta fatwanya masjid Nabawi fatwanya bagaimana karena sama jangan tidak adil. Karena Al-Safar ada Ridwan Kamilnya dipeyeum, dibahas-bahas, tapi tempat suci umat Islam tidak pernah disentuh," tutur sarjana arsitektur lulusan ITB dan master dari Universitas California, Berkeley, AS, ini. 

"Masjid Raya Jakarta, kenapa tidak heboh? Mungkin karena arsitekturnya bukan (karya) Ridwan Kamil jadi tidak ramai, tidak picemooheun," Tanya Ridwan Kamil yang kembali ditanggapi riuh oleh audiens. 

Masjid Raya Jakarta merupakan masjid terbesar di Jakarta setelah Istiqlal, yang juga mengadopsi bentuk segitiga dan lingkaran. 

Lebih lanjut Ridwan Kami menerangkan bahwa bentuk di Masjid Al-Safar yang viral itu bukan segitiga, tapi trapesium. 

Ridwan Kamil menegaskan, dia tidak sepakat tiap masjid atau bangunan ditemukan simbol yang dianggap non-muslim maka disimpulkan melanggar syariat. Sebab, kata dia, mungkin hal itu disebabkan oleh ketidaktahuan. 

Oleh sebab itu, Emil menyebut, kehadiran MUI Jabar di kegiatan tersebut ialah untuk memberikan pandangan terkait fatwa sehingga tidak menimbulkan kekeliruan-kekeliruan lainnya di masa mendatang. 

"Saya belum bersepakat kalau di tiap masjid atau tiap bangunan ditemukan simbol non-muslim dan kita menghakimi itu melanggar syariat. Tunggu dulu, mungkin karena ketidaktahuan atau tidak disengaja," papar Ridwan Kamil. 

"Ini bulan Syawal dan baru selesai Ramadhan. Kualitas akhlaknya harus ditingkatkan. Kita lagi tabayun menerangkan, tidak usah berteriak-teriak karena niatnya kan mencari ilmu," tutur dia. 

Ridwan Kami juga menyampaikan, jika iman warga kuat maka tidak akan terpengaruh dengan simbol apa pun karena niatnya ibadah kepada Allah. 

"Kalau iman kita kuat mau kita melihat apa pun bentuk geometri tidak akan melemahkan iman kita kalau iman kita kuat karena niat kita ibadah kepada Allah. Mari kita jadikan Jabar menjadi dakwah Islam terbaik," kata dia. 

"Simpulannya saya meyakini tentang hari akhir karena ada dalam rukun iman saya mendukung dakwah Ustaz Rahmat Baequni. Karena saya juga sama-sama muslim dan mukmin," lanjut dia. 

Hasil gambar untuk baequni ridwan kamil

Sedangkan Ustadz Rahmat Syafei selaku Ketua MUI Jabar menghimbau kepada semua pihak terkait persoalan Masjid Al-Safar tidak diperlukan fatwa apa pun. Kalaupun perlu, maka harus melalui kajian yang matang dengan melibatkan berbagai kalangan. 

Ustadz Rahmat Syafei mengatakan, dalam Islam terdapat banyak pandangan dan penilaian. Oleh sebab itu, masing-masing orang perlu bersikap menghargai dan menghormati sehingga tetap tercipta keadaan yang damai. 

Sementara dari pihak jamaah yang hadir mengeluhkan pengeras suara yang tidak maksimal sehingga jamaah yang berada diluar ruangan masjid Pusdai tidak dapat mendengarkan dengan jelas jalannya diskusi. 





SUMBER : KUMPARAN 



[islamedia].

...:

0 Response to "Suasana Akrab dan Cair, Ustadz Rahmat Baequni Bertemu Ridwan Kamil Diskusi Masjid As Safar"

Post a Comment